|
Tuesday, February 03, 2004
Tentang Pemburu Mimpi Menulis novel memang tidak mudah. Saya rasakan itu setelah berkutat tanpa henti dengan pemburu mimpi. Mungkin kali ini saya harus menurunkan sedikit 'semangat' itu. Web 'Pemburu Mimpi' tetap akan mengudara, tetapi akan berupa kumpulan cerpen yang pernah dan akan saya buat.
+ + + Lembar 4 Groote Postweg belum terlalu padat. Aku masih terpaku di sebuah persimpangan yang penuh becak. Hari ini masih terlalu pagi. Sedari tadi puluhan angkutan kota menawarkan jasanya kepadaku tapi aku hanya menggeleng dan menggeleng. Aku sendiri belum tahu mau kemana.
Kuperhatikan seorang kakek di seberang. Dari tadi dia juga hanya berdiri di situ. Jalan ini searah. Angkutan kota hanya bisa diberhentikan dari tempatku berdiri sekarang ini. Tapi dia juga tidak menunjukkan tanda-tanda mau menyeberang, padahal lampu tanda menyeberang sudah menyala empat kali. Atau jangan-jangan dia buta? Tapi aku tepis pikiran itu karena kulihat dia melihat-lihat kesana kemari dengan raut wajahnya yang keras walau renta. Berapa umurnya? Mengapa dia belum mati juga?
Kunyalakan sebatang rokok sambil terus memperhatikannya. Sepertinya dia tahu kalau sedang kuperhatikan. Dari sini aku bisa melihat sesekali matanya menatap tajam ke arahku dari balik kaca mata ray-ban coklatnya. Tak berapa lama kulihat dia maju menuju jalan dan mulai menyeberang. Dia menghampiriku. Aku jadi salah tingkah. Apa dia berpikir kalau aku ini membahayakannya dengan menatapnya seperti itu? Aku tak mau menyalahkannya. Rasa curiga ada di mana-mana.
Ya, dia memang menghampiriku. Dengan tenang dia berdiri di sampingku. Aku jadi semakin kikuk. Aku tak pernah merasa sangat nyaman berdekatan dengan orang tua, seperti aku tak pernah merasa nyaman dengan kakekku. Tak berapa lama dia memberikan senyum tipis yang amat sangat kaku kepadaku. Kubalas dengan senyum kikukku yang paling jelek.
"Anak mau kemana?" Suaranya berat dan tegas. Mungkin dulu dia tentara. Aku hanya menjawab kalau aku belum tahu aku mau ke mana. Mendengar jawabanku dia tersenyum kecut.
"Ya, saya mengerti. Anak muda memang selalu begitu. Tidak tahu harus berjalan kemana."
Aku terhenyak mendengarnya. Entah kenapa aku jadi merasa ditampar oleh orang tua ini. Gengsiku naik. Ada desir hangat dalam tubuhku merambat ke atas, menuju otak. Aku menarik nafas perlahan. Meredam laju desir hangat tadi.
"Dan bapak mau ke mana?" tanyaku kemudian.
"Saya sedang menunggu gedung di depan membuka pintunya."
Aku langsung melempar pandanganku ke gedung yang berdiri gagah di hadapan kami berdua. Gedung Keuangan Negara. Ada plang huruf K di pintu masuknya. Dahiku mengernyit, aku kembali menatap orang tua yang berdiri tegap di sampingku ini.
"Saya mau ambil uang pensiun." Dia menjawab pertanyaan yang belum aku lontarkan. Ada riuh tepuk tangan di dalam otakku dan hanya telingaku sendiri yang mendengarnya. Lantas kami terdiam sejenak.
Kalau kuperhatikan lagi, selera orang tua ini boleh juga. Kepalanya ditutup topi pet kotak-kotak coklat muda dan putih yang mengingatkanku pada tukang gambar pujaanku sewaktu kecil yang mengajariku bagaimana cara menggambar dengan cerdik di sebuah acara layar kaca. Gambarku pernah dipuji olehnya dan aku hampir terkena serangan jantung saking girangnya. Namaku disebutnya di televisi dan gambarku dibilang 'bagus'. Aku masih tetap menggambar sampai sekarang, walaupun sebagian besar hanya untuk order.
Tapi yang paling aku kagumi darinya adalah kacamata ray-ban itu. Klasik betul. Bentuknya pas dengan bentuk mukanya yang agak kotak. Pasti usia kaca mata itu juga sudah setua dirinya. Aku bisa melihat gagang plastiknya yang mulai mengelupas didera waktu. Lensa coklat mudanya menambah kharisma pemakainya. Aku jadi yakin kalau orang ini bekas tentara.
"Saya pensiunan Jawatan Kereta Api."
Aku hampir lompat ketika dia tiba-tiba mengucapkan itu. Nalarku langsung ambruk. Rasa ngeri mulai menyelinap ke dadaku. Angin pagi menambah dingin kudukku. Ada apa dengan orang tua ini? Apa dia memang bisa membaca pikiranku? Aku berusaha menenangkan diri dan berpikir positif. Aku yakin matahari pagi yang lembut selalu memberikan energi positif ke seluruh jagad. Tak terkecuali untukku saat ini. Aku menghisap rokokku dalam-dalam.
"Sejak kapan Anak mulai merokok?" tanyanya kemudian. Ada nada sangar di situ.
"Sejak sekolah dasar, Pak." Aku pernah diinterogasi polisi waktu razia narkoba, tapi rasanya tidak lebih menakutkan daripada ditanya orang tua ini.
"Sejak sekolah dasar? Hebat betul!" Nadanya mulai melecehkan. Aku nyengir. Dia menatapku lalu menatap rokokku yang tinggal setengah batang. Matanya menyuruh aku membuang rokok itu, tapi tidak kulakukan.
"Bapak alergi asap rokok?" tanyaku iseng, sok mengetahui pikirannya juga.
"Tidak. Saya hanya menyesalkan tubuh tegap Anak dirusak rokok."
Cengiranku makin lebar. Kuambil sisi baiknya saja: dia memuji badanku. Sudah jam setengah delapan pagi. Jalan raya makin ramai, tapi pintu gedung itu belum juga dibuka. Hanya ada beberapa satpam lalu lalang di dalam halaman beserta beberapa pegawai negeri yang bekerja di gedung itu. Mungkin baru jam sembilan gedung itu buka. Aku jadi tidak tega meninggalkan orang tua ini sendirian di pinggir jalan sebelum gedung itu memberikan uang pensiunnya.
"Apakah Anak juga minum ganja?" tanyanya lagi. Aku hampir tersedak asap rokok dikarenakan pertanyaannya dan istilah lama yang sudah jarang kudengar: minum ganja.
"Tidak," jawabku munafik.
"Saya tidak percaya. Anak muda jaman sekarang sering minum ganja bukan?"
Aku bersikukuh dengan gelengan yang dibuat-buat. Senyum terbit di wajah keriput itu. Di mataku senyuman itu seperti senyuman Judas. Licik. Aku merasa dipermainkan. Aku memilih diam dan nampaknya dia tidak keberatan dengan diamku itu. Dia merasa menang karenanya. Aku jadi ingat ayahku.
"Lantas, mengapa Anak tidak tahu tujuan?" tanyanya tanpa memandangku sedikit pun.
"Saya cuma mau jalan-jalan, Pak."
"Tapi dari tadi Anak hanya diam di sini sendiri. Kalau hanya diam, bukan jalan-jalan namanya." Suaranya terdengar melembut. Dia seperti sangat prihatin dengan keadaanku yang tanpa tujuan ini.
"Anak masih kuliah?"
"Sudah berhenti, Pak."
"Maksudnya berhenti? Sudah lulus?"
"Tidak. Saya mengundurkan diri."
Dia terkejut. Aku maklum. Orang tuaku juga berekspresi seperti itu ketika aku bilang aku memutuskan untuk mengundurkan diri dari bangku kuliah. Untungnya aku sudah kebal dengan ekspresi-ekspresi seperti itu.
"Saya yakin Anak tidak bodoh!" Suaranya meninggi. Aku terkekeh.
"Saya juga yakin, Pak. Makanya saya mengundurkan diri."
Aku yakin jawabanku makin membuatnya bingung. Tapi tiba-tiba dia tertawa terbahak. Tubuhnya berguncang keras. Dia menepuk-nepuk pundakku keras. Aku jadi ikut tertawa bersamanya, walaupun tidak sedahsyat tawanya. Dalam hati aku jadi senang bisa membuat wajah keras itu tertawa. Kerut-kerutnya makin melebar dan segala kegarangan yang sedari tadi menempel padanya pun luruh.
"Anak tinggal dengan orang tua di sini?" tanyanya kemudian setelah tawanya reda.
"Tidak. Saya tinggal bersama beberapa teman di rumah kontrakan. Orang tua saya di Semarang."
"Oh! Perantau rupanya! Saya juga perantau. Saya tinggal di Bandung sejak tahun 1968. Beberapa anak saya lahir di sini!"
Wajahnya langsung sumringah. Sebenarnya bukan hal aneh karena kota ini sudah penuh dengan para perantau. Bahkan banyak keluarga di ibukota negara 'menitipkan' anak-anaknya untuk dididik di kota ini sebelum dikembalikan kepada kenyataan pahit ibukota negara yang keras. Tapi banyak di antara anak-anak titipan itu yang tidak ingin kembali ke daerah asal mereka. Aku tidak mengerti mengapa. Kota ini sepertinya biasa-biasa saja, setidaknya buatku. Tidak ada yang spesial selain hawa dingin yang menusuk-nusuk.
"Siapa nama Anak?"
"Bara, Pak."
"Bara? Gagah sekali," pujinya sambil tersenyum lebar. Aku agak tersipu.
"Terima kasih, Pak."
"Nama saya Argo. Kapan-kapan Anak boleh main ke rumah saya di Buah Batu. Anak harus mencoba masakan isteri saya. Enak betul pepes ayamnya!"
"Terima kasih lagi, Pak." Terus terang aku jadi terharu dan lapar.
Jam delapan tepat. Pintu gerbang gedung di seberang sudah mulai terbuka. Orang tua itu tampak gamang. Aku membantunya melihat apakah pintu yang di dalam sudah terbuka. Ternyata sudah. Dia menghela nafas panjang, menatapku lagi sambil tersenyum kaku. Entah mengapa aku jadi berat berpisah dengannya.
"Sebaiknya saya masuk supaya dapat nomor urut paling depan," ujarnya kemudian dengan suara tegasnya yang semula. Kubalas dengan senyuman dan anggukan hormat. Dia balas lagi dengan anggukan khas yang langsung mengingatkanku pada Aryo, teman sekontrakanku.
Dia mengedarkan pandangan ke sekeliling Groote Postweg yang sekarang diberi nama Asia-Afrika itu. Matanya seperti mengecam lalu lintas yang mulai padat. Kendaraan bermotor berdesing bising. Jaman berubah. Dia pernah merasakan masa keemasan kota ini, saat pepohonan masih sangat rimbun sepanjang jalan-jalan yang belum terlalu lebar dan halimun dingin selalu menyelimuti di pagi hari seperti ini.
Aku melepasnya menyeberangi jalan besar itu. Dia menghilang di balik gerbang Gedung Keuangan Negara. Perutku tak tahan lagi, bergolak minta diisi. Akhirnya aku tahu aku harus ke mana. Aku mulai menjejakkan kakiku di sepanjang trotoar menuju alun-alun kota di ujung sana. Aku harus kenyang dulu sebelum mati.
+ + + Lembar 3 Hari ini aku akan mati. Aku sudah punya firasat sejak beberapa minggu yang lalu dan hari ini adalah hari yang tepat untuk mati. Aku tidak tahu apakah aku akan bunuh diri, aku akan sakit parah, atau aku akan kecelakaan. Aku tidak mau memikirkan bagaimana cara aku mati, yang penting aku mati hari ini.
Pagi-pagi sekali aku sudah bangun. Firasatku semakin kuat. Aku tidak pernah bangun pagi. Tapi kokok ayam tetanggaku seperti menyuruhku bangun untuk menikmati hari terakhirku. Aku pun bangun, mandi, membuat kopi, menyalakan rokokku (mungkin ini rokok terakhirku) lalu duduk di balkon sambil memandangi bukit-bukit kecil bercumbu dengan matahari muda dilapis filter lembut kabut pagi.
Tak berapa lama pintu rumahku terbuka. Aku melongok ke bawah. Bibi masuk dan segera melaksanakan tugas hariannya: membersihkan rumah ini setiap pagi. Dia nampak terkejut ketika menemukanku di balkon.
Aku hanya tersenyum rapih. Kuperhatikan dia bergerak gesit menyapu seluruh lantai atas, membersihkan debu yang menempel di perabot, lalu mengepel lantainya. Aku tidak pernah tahu umur bibi. Yang jelas semua anak perempuannya sudah besar-besar. Cantik-cantik pula. Aku sempat disarankan teman-temanku agar aku memacari satu di antaranya. Tapi demi menjaga hubungan baikku dengan bibi, kutolak 'saran' teman-temanku dan memilih hanya memandangi anak-anak gadisnya lalu lalang di jalan depan rumah sambil sesekali melemparkan senyum saat mereka melirikku malu-malu.
Aku bangkit sejenak dan menyalakan tape. Sudah lama aku tidak merenung bersama Jimi Hendrix. 'Hey Joe' dari album 'Are You Experienced?' berkumandang. Kugoyangkan kepalaku sedikit mengikuti gitar Jimi. Bibi tersenyum simpul ketika melihatku. Dia memang sudah tidak aneh melihat penghuni rumah ini sering bergaya seperti bintang rock ketika menyetel CD keras-keras. Dia pernah memergokiku melonjak-lonjak menirukan Jimmy Page di 'Ramble On' atau kaget ketika melihat empat penghuni rumah ini menyanyikan 'Redemption Song' lebih khidmat daripada 'Indonesia Raya'.
Mungkin bibilah yang lebih mengenalku daripada ibuku sendiri selama aku berada di kota ini. Tapi hari ini adalah hari terakhir aku bersamanya. Aku mulai dirasuki melankoli. Ribuan kata maaf seperti ingin melesak keluar mulutku. Badanku melonjak ingin menghambur memeluk perempuan hampir setengah baya yang sedang sibuk mengepel lantai itu. Aku mulai menginventarisir segala kesalahanku padanya: telat bayar gaji, cucian yang terlalu banyak, muntahan di lantai ketika aku mabuk, botol-botol bir yang malas kubuang, atau segala keributan malam hari yang sangat mengganggu karena rumahnya tepat di sebelah rumahku. Aku jadi mau menangis.
"Den Bara mau pergi?" Suaranya tiba-tiba sudah berada di dekatku. Aku hanya menatapnya kosong lalu menggeleng pelan. "Nggak, Bi. Saya lagi kepingin bangun pagi." Bibi hanya tertawa pelan.
Iya, sebenarnya aku memang mau "pergi". Aku akan mati hari ini. Aku tidak akan menemuinya lagi, aku tidak akan menyusahkannya lagi. Tapi kalau aku mati, dia bisa kehilangan penghasilan. Aku tambah merasa bersalah. Hidup salah, mati pun masih salah.
"Bangun pagi itu bagus untuk kesehatan, Den. Den Bara jangan terlalu sering begadang. Akhir-akhir ini Den Bara kurus sekali. Bibi sampai takut Den Bara sakit."
Suaranya memang terdengar sangat prihatin. Mataku hampir banjir. Sialan! Mengapa suasana pagi terakhirku jadi seperti ini? Seharusnya suasana pagi ini penuh dengan keyakinan bahwa aku memang disiapkan untuk mati. Aku memandang ke langit biru cerah. Aku ingin mengumpat Sang Sutradara. Sudah dua puluh lima tahun Dia merancang adegan-adegan kacangan di seluruh episode hidupku dan sekarang Dia masih memakai adegan kacangan di akhir episode. Bedebah!
Aku langsung melesat ke kamarku. Kuambil tas ransel lalu aku segera pergi keluar. Kutinggalkan Bibi yang masih bengong karena tiba-tiba aku pergi. Kuucapkan selamat tinggal dalam hati pada teman-teman serumahku yang masih terlelap. Maafkan aku, tapi aku akan mati hari ini.
+ + + Lembar 2 Aku tidak tahu mengapa aku terlahir seperti ini. Tidak juga orang tuaku. Sebenar-benarnya aku juga tidak pernah menginginkannya. Aku selalu membayangkan seandainya saja manusia dilahirkan seperti makhluk kappa dalam imajinasi liar Ryunosuke Akutagawa. Sebelum sang jabang bayi kappa melihat dunia, dokter kappa akan berteriak dari mulut vagina ibu kappa kepada jabang bayi : "KAU MAU LAHIR ATAU TIDAK?!" Kalau si bayi kappa menjawab tidak mau disertai alasan-alasannya, maka perut ibu kappa akan mengempis tiba-tiba dan hilanglah si bayi kappa yang menolak dilahirkan itu. Cara yang efektif sebetulnya. Bisa meminimalisir angka aborsi, anak haram, atau anak-anak "gagal". Tapi sekali lagi, aku bukan kappa, walaupun aku sangat menginginkannya.
Sejak aku mulai menyadari kalau aku adalah manusia biasa, aku mulai melahirkan beberapa diriku yang lain. Beberapa diri yang aku inginkan sebagai Aku, lepas dari dogma atau norma yang mengasuhku sejak aku masih dalam perut ibuku. Menurutku, dogma-dogma dan norma itu sama sekali menjijikan. Aku mulai menyukai Holden Caufield. Tapi aku juga membaktikan diriku dalam ajaran nabi-nabi besar yang menciptakan Tuhan. Satu per satu aku mulai menyaring mereka semua untuk masuk ke dalam ke-Aku-anku. Tak berapa lama, aku menjadi pribadi-pribadi sempurna. Aku membaginya dalam beberapa nama, lalu aku pun siap memesonakan dunia.
Dari matamu, aku cuma seorang perempuan biasa dengan aturan baku yang mengikat kehidupan fanaku. Aku pemimpin berprestasi di kehidupan sosialku yang biasa-biasa saja. Aku adalah penyeru ulung syair-syair Tardji. Suaraku lebih lantang dari Bentara. Aku pun membekali diriku dengan pergaulan tanpa kelas. Aku pun mulai keliling dunia. Nyata dan maya.
Subscribe your username. Subscribe your password. Login. Jangan pernah menyesal kalau kau temui diriku di sana. Aku adalah kepribadian yang kau inginkan. Bicaralah padaku. Kalau kau bosan, kau bisa bicara pada "ku" yang lain. Aku mulai mencintai dunia yang ini. Kebebasan hampir tanpa batas yang memabukkan. Aku hanya tinggal berdiam diri di depan sebuah jendela yang menyajikan warna-warni dunia. Pelan-pelan aku mulai mencari-cari tempat dimana aku bisa mendapatkan setetes demi setetes adrenalin dari petualanganku yang tanpa batas itu. Yang paling fana dari fana. Benar-benar memabukkan.
Aku akan datang padamu. Setiap hari. Aku akan mengetuk jendelamu dan kau akan menyambutku dengan senyum paling sumringah dari mulutmu hari ini. Aku datang sebagai jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang menggelisahkan. Manusia diciptakan tidak sempurna. Hampir selalu menderita. Aku bisa menjadi satu-satunya bahagia yang hadir untukmu setiap hari. Akulah surga yang hilang. Paradiso perduto!
Ah, sensasi! Manusia selalu haus dengan sensasi. Mungkin akulah yang paling haus di muka bumi ini. Aku tak pernah percaya cinta. Tapi aku akan berikan padamu sebuah pengalaman paling sensasional atas nama cinta. Demikian juga 'aku' yang lain. Pilih saja. Nikmati saja. Tapi jangan selidiki siapa aku. Jangan pernah bertanya tentang kebenaran. Kebenaran sejati adalah kebohongan sejati. Aku berikan padamu kedua-duanya. Dari semua pribadiku yang kau cintai.
+ + + Lembar I Malam basah meninabobokan kota ini. Bintang-bintang berserakan di bawah bukit. Peri-peri sedang menghitung berapa pasang yang sedang mencapai orgasme. Mungkin buat laporan ke surga kalau sebenarnya manusia sudah selayaknya bahagia. Dan tragedi pengusiran Adam dan Hawa dari Firdaus sudah selayaknya dikaji kembali apakah masih cocok dimasukan ke dalam kitab-kitab pertama yang dibuat manusia atau dipindahkan saja ke buku-buku dongeng pengantar tidur. Biarlah anak-anak kecil itu sesekali belajar tentang seks sebelum dikibuli bapak ibunya ketika mereka mulai bertanya tentang cara membuat adik mereka.
Tapi ngomong-ngomong, apakah kita semua memang sudah ditakdirkan untuk menjadi korban penipuan? Mungkin saja penjual jagung bakar di depanku ini pernah ditipu oleh entah siapa dari kampung asalnya. Mereka pergi ke kota ini setelah mendengar dongeng-dongeng tentang tanah terjanji yang subur gemah ripah loh jinawi. Genah merenah tumaninah. Lalu setelah sampai, mereka harus menelan ludah karena tanah terjanji itu cuma bisa ditumbuhi jagung. Atau para nyai malang itu, yang keburu terpukau oleh rambut kuning para pemburu mimpi dari negeri-negeri Cinderella di seberang samudera. Mereka tinggalkan sendal-sendal mereka di bawah tangga lalu melahirkan anak-anak haram pseudo eropa yang kemudian dilabeli kasta tambahan sebagai hadiah hiburan.
Aku pun tertipu. Tertipu oleh kata-kata "Masa Depan Yang Lebih Baik". Aku pernah memasrahkan diri pada kereta yang membawaku ke kota ini. Beberapa bulan kemudian, aku sadari kata-kata 'masa depan' itu cuma mimpi kepagian, sebelum kata-kata 'yang lebih baik' seharusnya ditambahi kata 'mudah-mudahan'. Tapi, seperti layaknya film-film James Dean, aku hanya mengikuti langkah kaki tanpa tahu dimana musti berhenti.
Tanpa terasa sudah sekian tahun aku ditipu. Menelan teori-teori tanpa pernah dikasih tahu kalau teori-teori itu sebenarnya cuma untuk memuaskan hati para pengarang buku-buku. Bagaimana sebenarnya dunia tercipta? Jawab Hawking : The Big Bang. Jawabku : tipu muslihat.
Hawking sok tahu. Dia masih melarikan diri dengan argumen ada sesuatu yang lebih besar dari pada alam semesta dan menjadi penyebab The Big Bang, penyebab semua kekacauan ini. Causa Prima. The Super Thing. Sang Penipu Besar! Beberapa pemberontak besar jaman dahulu yang kita sebut Nabi itu menamainya Tuhan, sesuatu yang absurd kalau mau jujur. Teorinya ditumpahkan dalam kitab-kitab propaganda. Selama ribuan tahun diyakini sebagai dongeng sejati sekaligus hukum sejati. Manusia-manusia yang sebenarnya sudah tertipu ini masih mencari benefit dari keadaannya yang tertipu. Menyedihkan.
Tapi tak ada yang lebih menyedihkan dari diriku sendiri disini. Di depan tukang jagung bakar ini, melamun mencoba menghitung bintang. Aku pun masih menipu diriku sendiri, sama seperti mereka yang sejenis denganku di bawah sana, di tengah belantara kota yang sepi. Aku masih mencari manfaat dari tindak penipuan ini, seperti yang kulakukan selama ini. Entah seperti apa pada akhirnya. Sebuah akhir yang masih harus kutunggu sementara aku masih mencari-cari lubang tikus sebagai jalan pintas. "Masa Depan Yang Lebih Baik" mungkin sedang menungguku di luar lubang tikus itu. Mudah-mudahan memang "Lebih Baik". Setidaknya untuk dua orang yang pernah berkolaborasi menyatukan indung telurnya dengan salah satu spermanya menjadi aku.
+ + + MUKADIMAH "There's a city called Bandung, comprising 25 to 30 houses" - Juliaen da Silva, 1614. Jauh sebelum jarum-jarum kompas menunjukkan arah ke timur, dunia hanya selebar pandangan mata seorang kanak. Begitu ceria dengan monster-monster di bawah tempat tidurnya. Lalu legenda demi legenda berkelana di riuhnya lalu lintas motorik syaraf kita. Membayangkan negeri amat jauh dengan segala pertarungannya. Tanpa sadar bibit-bibit haus kuasa sudah demikian tertanam dalam-dalam di otak kita.
Dan jauh sebelum Freud 'merusak' misteri tentang mimpi dengan teori-teori metapsikologinya, mimpi hampir seperti lempengan emas berkilau-kilau yang dilemparkan oleh para leprechaun atau peri bunga lonceng dari atas pelangi. Kita pernah begitu percaya pada mimpi, seperti orang-orang menanti mendapat mimpi ketika mereka tidur di kuburan kakek buyutnya, menganggapnya lebih dari sekedar bunga tidur. Semacam kerinduan tak terbendung bahkan jadi obsesi pada sebagian orang. Mimpi seperti pertanda akan sesuatu. Tanda yang hampir sangat penting untuk menentukan mana yang paling tepat untuk kita jalani selanjutnya. Kita masih senang bermimpi dan sejujurnya kita akan selalu mengejarnya.
Kami adalah para pemburu. Semua ini hampir seperti sebuah kisah tentang perjalanan panjang. Gambar-gambar bergerak tentang seorang pengelana dengan tas ranselnya yang lusuh tanpa adegan heroik berlebihan. Tapi beberapa pengelana yang lain tas ranselnya masih baru made in USA yang dijahit buruh-buruh upahan kecil di pabrik-pabrik tersembunyi negeri terpencil. Tidak jadi masalah sebenarnya, karena isi ransel-ransel itu hanya kenaifan. Ya, kami memulai semuanya tanpa kompas dan peta. Dipicu oleh brosur-brosur mengkilap yang menjanjikan masa depan yang lebih baik, kami pun berangkat.
Lantas kami datang ke kota kecil ini. Bekal kami cuma kenaifan itu. Tapi kami sudah membungkusnya dengan darah muda kami. Kami bersiap-siap untuk bosan, karena kami pernah berpikir kota ini memang terlalu kecil buat kami. Kami hampir-hampir tak bisa memadamkan lahar panas yang menggelegak di gunung-gunung kesombongan kami. Kami tak pernah menyadari bahwa suatu hari nanti, di kota ini, kami menenggelamkan diri ke lahar-lahar itu. Tapi kami sudah disini. Dari sini kami mulai memburu mimpi.
+ + + |
|
Nama: Anastacia Dyah Ekarini Ratnaningtyas
Lahir: Bandung tanggal 8 Maret 1978 E-mail: bunga-randu@hotmail.com |
|
*Simpanan* **Lembar Lain** Goresan Puisi Langkah-langkah kecil Lembar Kisah *Kamar Sastra* Bumi Manusia Majalah Puisi Jejak Sajak |